Cerita di Balik Mereka yang Beruntung Lolos dari Maut Akibat Gempa Cianjur

Cerita di Balik Mereka yang Beruntung Lolos dari Maut Akibat Gempa Cianjur

Duffytheseaturtle.com – Kedalaman gempa yang dangkal, struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa, serta lokasi permukiman berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek topografi) membuat gempa Cianjur tergolong sangat merusak.

TRAUMA mendalam terlihat dari wajah lugu Azka Maulana Malik. Senyum manisnya belum lagi tampak. Bocah mungil itu masih terbaring lemah di atas tempat tidur dalam tenda darurat yang dibuat di pelataran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang, Cianjur.

Read More

Tangan kanan Azka hanya bisa memegang mobil mainan truk tangki plastik. Sesekali jemarinya menyentuh tombol dari truk tersebut. Suara pun keluar dari truk mainan berwarna silver itu. Namun tangan kanan Azka belum bisa leluasa bergerak lantaran masih ada selang infus yang terpasang di tangannya.

Azka merupakan salah satu orang yang beruntung selamat dari bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6 yang mengguncang Cianjur pada Senin (21/11/2022). Balita berusia lima tahun itu terkurung di dalam kamar selama 60 jam akibat tertimpa reruntuhan bangunan rumah.

Baca Juga:
Ormas Garis Viral Gegara Copot Label Gereja di Gempa Cianjur, Ternyata Pernah Dipermasalahkan saat Pilpres 2019

“Kan kalau jam-jam segitu, Azka biasanya tertidur di kamar sendirian,” kata Wahyudin, sang paman.

Para personel dari Tim SAR mencoba membobol tembok kamar yang telah ambruk di rumah Azka. Yang ditemukan adalah kayu lapis atau tripleks. Saat itu pula ditemukan ada tanda-tanda kehidupan.

Sekira pukul 11.00 WIB, Azka mulai melihat cahaya dan tangan-tangan dari petugas Tim SAR yang berusaha meraihnya. Akhirnya Azka berhasil dikeluarkan dari reruntuhan bangunan dan langsung diserahkan ke sang ayah.

Suasana bahagia sekaligus haru menyelimuti detik-detik penyelamatan Azka sebagai titik harapan warga lainnya. Pasalnya, di desa tersebut bukan hanya Azka yang dinyatakan hilang.

Azka kemudian dilarikan ke RSUD Sayang Cianjur secepat mungkin untuk mendapatkan perawatan medis.

Baca Juga:
Ini Klarifikasi Kemensos soal Narasi Adopsi Bayi Korban Gempa Cianjur

+++

M Eka Suhabudin (38) tengah berada di Majalengka, Jawa Barat, karena ada suatu pekerjaan pada Senin (21/11/2022). Sekira pukul 12.45 WIB, ia menghubungi sang istri, Eti Suryati, melalui panggilan video call WhatsApp.

Eti saat itu sedang berada di teras rumah. Sementara, putra kecilnya Azka Maulana Malik terihat sedang asyik menonton televisi di dalam kamar. Tak sampai satu jam kemudian, takdir mengubah jalan hidup keluarga Eka.

Gempa bumi magnitudo 5,6 itu menggoyang wilayah Cianjur sekitar pukul 13.21 WIB. Titik gempa Cianjur berada di koordinat 107,05 BT dan 6,84 LS, berjarak sekitar 9,65 km barat daya Kota Cianjur atau 16,8 km timur laut Kota Sukabumi dengan kedalaman 10 km.

Kedalaman gempa yang dangkal, struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa, serta lokasi permukiman berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek topografi) membuat gempa Cianjur tergolong sangat merusak.

Kurang dari 10 menit pasca gempa, Eka mendapat kabar musibah itu. Perasaan yang campur aduk—cemas dan khawatir—kembali menelepon sang istri. Namun ponselnya sudah tidak aktif.

“Habis itu saya telepon lagi jam 13.30 WIB, tapi sudah gak aktif,” kata Eka saat ditemui di RSUD Sayang Cianjur.

Azka (5), seorang anak yang selamat dari reruntuhan puing rumahnya, akibat gempa Cianjur, hanya bisa terbaring di atas kasur rumah sakit dalam tenda darurat di halaman Rumah Sakit Umum Daerah Sayang Cianjur. (Duffytheseaturtle.com/Faqih)

Tanpa berlama-lama lagi, Eka bertolak ke Cianjur untuk melihat kondisi kediamannya. Ia sampai di Cianjur sore hari. Saat itu, Eka datang bersama dua rekannya.

Dibantu dengan adik iparnya, mereka mulai melakukan pencarian terhadap istri, anak dan ibunya, Endah, pada saat Senin (21/11/2022) sore, yang diduga tertimbun reruntuhan rumah mereka yang telah ambruk. Namun pencarian harus dihentikan lantaran masih banyak gempa susulan.

“Pencarian kembali dilakukan pada Selasa (22/11) sekira pukul 08.00 pagi. Dibantu dengan tim gabungan,” ujar Eka.

Dengan alat seadanya, Eka melakukan penyisiran. Satu demi satu puing bangunan mulai diangkat. Saat mengevakuasi puing bangunan di sekitar teras rumah, hati Eka seketika bak hancur berkeping-keping. Wanita yang dicintainya dan telah mengarunianya seorang putra, Eti Suryati, ditemukan sudah tidak bernyawa.

Azka Ditemukan Selamat

Keterbatasan waktu dan tenaga membuat pencarian Azka dan ibunda Eka dihentikan. Pencarian dilanjutkan pada keesokan harinya, Rabu (23/11/2022). Tim SAR bersama keluarga kembali melakukan penyisiran.

Saat itu, Eka mendengar suara anaknya. Tidak begitu lantang namun cukup terdengar dari balik puing. Akhirnya Azka berhasil dievakuasi petugas sekira pukul 11.00 WIB.

Selama hampir tiga hari tertimbun reruntuhan puing bangunan, Azka sempat tak sadarkan diri akibat tidak makan dan minum. Saat ditemukan, Azka, tidak menangis histeris.

“Matanya hanya berbinar air mata, lemas. Langsung dievakuasi menuju ambulans,” tutur Eka.

Tak berselang begitu lama dari penemuan Azka. Sekira pukul 13.30 WIB, Endah, nenek Azka, ditemukan oleh tim SAR di kamar mandi. Pilu, lansia itu ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa akibat tertimpa reruntuhan.

“Posisinya di dalam kamar mandi, posisinya pas ditemukan pakai handuk. Kayak mau mandi atau mencuci baju gitu,” jelas Eka yang kembali harus pasrah mengikhlaskan lagi orang yang dicintainya untuk selama-lamanya.

Tangkapan Layar Bocah Selamat di Reruntuhan Pasca gempa Cianjur [Instagram]
Tangkapan Layar Bocah Selamat di Reruntuhan Pasca gempa Cianjur [Instagram]

+++

Selamatnya Azka Maulana Malik tak terlepas dari kuasa ilahi. Tak ada luka cukup serius yang dialami bocah yang gemar bermain sepakbola tersebut setelah terjebak di reruntuhan puing selama hampir tiga hari. Hanya bagian kaki dan perut yang alami memar.

“Melahap 2 mangkok bubur ayam tanpa tersisa. Mungkin lapar kali ya gak makan 3 hari. Dokter bilang kondisinya normal,” kata Miftah, paman Azka, yang turut menunggui Azka terbaring di tenda darurat yang didirikan di pelataran RSUD Sayang Cianjur.

Pada Kamis (25/11/2022), Azka telah diperbolehkan pulang. Ia pun dibawa oleh pihak keluarga untuk dirawat di rumahnya neneknya, dari keluarga ayahnya yang terletak di Kecamatan Cipongkor, Bandung Barat.

Azka bukan satu-satunya bocah yang selamat dari bencana gempa bumi di Cianjur. Terhitung, ada tiga anak yang terbaring berjejer di atas ranjang dalam tenda darurat di pelataran RSUD Sayang, Cianjur.

Salah satunya, Rian (10). Ia tertimpa puing bangunan saat sedang bermain playstation di rumah tetangga. Tempat tidur Rian hanya beselang dua ranjang dari Azka.

Saat itu, Rian tengah asyik menyantap ayam KFC pemberian Presiden Joko Widodo yang sebelumnya mengunjungi RSUD Sayang Cianjur.

Meski wajahnya masih lebam dan membengkak hingga kedua matanya hampir tertutup rapat. Namun Rian makan dengan cukup lahap, hingga terkadang ia mencolek tangan ibunya, menandakan nasi di mulutnya telah kosong. Dan minta disuapi lagi.

Rian sedikit beruntung jika dibandingkan dengan Azka. Pasalnya, Rian tidak sampai terjebak dalam reruntuhan selama berhari-hari. Ia langsung bisa ditemukan, karena usai tertimpa reruntuhan bangunan Rian langsung menangis histeris.

“Pas roboh langsung ditemuin karena dia nangis,” kata orangtuanya, Cucum.

Seorang anak penyintas gempa Cianjur mengaji Alquran di tenda pengungsian di Kampung Banjar Pinang, Desa Cijendil, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2022). [ANTARA/Laily Rahmawaty]
Seorang anak penyintas gempa Cianjur mengaji Alquran di tenda pengungsian di Kampung Banjar Pinang, Desa Cijendil, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (26/11/2022). [ANTARA/Laily Rahmawaty]

+++

Abah Ma’mun (77), warga Kampung Barukaso, Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjalankan aktivitasnya secara normal sebelum gempa bumi menguncang wilayah itu. Sebelum waktu Sholat Dzuhur tiba, ia bergegas menuju surau yang tak jauh dari kediamannya.

Waktu salat pun tiba. Ia langsung melantunkan azan menggunakan pengeras suara. Satu demi satu warga berdatangan ke surau untuk menunaikan salat berjamaah. Selepas salat, Abah Ma’mun tidak lantas bergegas meninggalkan surau. Ia memilih berdiam diri untuk melakukan dzikir.

Tak beberapa lama, gempa berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah tersebut. Saat itu, ia hanya bisa pasrah. Lantaran di usia senjanya, hampir tidak mungkin ia mengambil langkah seribu.

Abah Ma’mun tetap bersimpuh kepada ilahi. Matanya terpejam sembari mulutnya tak henti membaca sholawat. Dibenaknya terbersit sudah dekat dengan maut.

Meski demikian, Abah Ma’mun masih mencoba bertawakal dengan menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Allah SWT.

“Tiba-tiba bruuk,” kata Abah Ma’mun menirukan suara atap yang ambruk.

Seakan tidak percaya dengan peristiwa yang terjadi, Abah Ma’mun sempat melihat keadaan sekitar surau. Atap surau yang seharusnya ada di atas, kini sejajar olehnya.

Tanpa pikir panjang, Abah Ma’mun kemudian langsung berupaya keluar surau yang sudah rata dengang tana itu. Dengan merayap di lantai, ia segera mencari jalan keluar.

Usai melewati pecahan genteng, Abah Ma’mun berhasil keluar dari reruntuhan yang hampir saja merenggut nyawanya. Ia juga sempat memeriksa kedua tangan dan sekujur badannya, hingga kepala. Tak ada luka sama sekali.

“Alhamdulillah selamat. Alhamdulillah gak kenapa-kenapa,” ungkapnya.

Meski demikian, Abah Ma’mun sedikit muram. Surau peninggalan orangtuanya yang kerap ia gunakan untuk beribadah, kini belum bisa digunakan kembali karena kondisinya yang rusak parah.

Ilustrasi Abah Ma'mun, korban selamat gempa Cianjur. [Duffytheseaturtle.com]
Ilustrasi Abah Ma’mun, korban selamat gempa Cianjur. [Duffytheseaturtle.com]

+++

Sudirman, warga Kampung Barukaso lainnya, tidak seberuntung Abah Mamun. Siang itu, Sudirman sedang asyik menyaksikan siaran televisi. Di waktu santainya itu, tetiba gempa menggoyangkan rumahnya.

Sudirman sempat mencoba keluar rumah. Namun saat di depan pintu, ia tertimpa tembok. Jari lengan kirinya sobek terkena pecahan kaca depan rumah. Meski demikian, ia tetap berupaya meloloskan diri agar tidak tertimpa bahan material lainnya.

Saat ditemui, Sudirman tengah memapah tangan kirinya dengan seutas kain. Sembari tangan kanannya terselip sebatang rokok kretek. Ia berjalan perlahan melihat keadaan kampungnya yang 80 persen bangunan di sana rata dengan tanah.

“Guncangannya terlalu dahsyat, begitu saya menyelamatkan diri, rumah langsung roboh. Tangan saya kebeset kaca,” katanya, di lokasi, Rabu (23/11/2022).

Sudirman tinggal bersama istri dan dua orang anak. Meski terluka, namun ia masih bersyukur lantaran anak dan istrinya selamat dari musibah tersebut.

“Anak saya ada dua, satu kelas 6 SD, satu lagi 3 tahun. Saat gempa, anak saya yang kecil lagi ada di gendongan. Begitu gempa, istri saya langsung bawa anak saya keluar, Alhamdulillah selamat,” ungkapnya.

Dalam musibah ini, kata Sudirman, tidak ada barangnya yang selamat dari bencana. Semuanya tertimpa reruntuhan puing.

“Rumah saya rata, hancur semua,” katanya.

Berdasar laporan Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), jumlah korban meninggal gempa Cianjur bertambah dua. Jenazah dua warga tersebut ditemukan  di Desa Cijedil pada Senin (28/11/202). Total, korban meninggal kini menjadi 323 orang.



#Cerita #Balik #Mereka #yang #Beruntung #Lolos #dari #Maut #Akibat #Gempa #Cianjur

Sumber : www.suara.com

Related posts